|
Bulan Ramadhan yang mulia sudah di depan mata. Saat ini kita sudah memasuki bulan Sya'ban yang ternyata juga memiliki sejumlah keistimewaan. Semoga kita bisa meraihnya. Apa saja?
Keutamaan bulan Sya'ban
Keutamaan bulan Sya'ban telah dijelaskan oleh Nabi r dalam sabda beliau:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Itu adalah bulan yang dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan diangkatnya seluruh amalan kepada Rabb semesta alam."
Di zaman jahiliyyah, orang mengagungkan bulan Rajab. Di zaman Islam, umat Islam mengagungkan bulan Ramadhan dan perhatian mereka terfokus kepadanya, sehingga banyak orang yang lalai akan keutamaan bulan Sya'ban.
Dan yang dimaksud dengan diangkatnya amalan dalam hadits di atas adalah diangkatnya amalan setiap tahun. Adapun amalan setiap pekan diangkat di hari Senin dan Kamis, sedangkan amalan harian diangkat setiap hari.
Pada bulan ini juga terdapat satu malam yang istimewa, yaitu malam Nishfu Sya'ban (pertengahan Sya'ban). Nabi r bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
''Sungguh Allah melihat (kepada hamba-hambaNya) pada malam pertengahan Sya'ban, maka Dia mengampuni semua ciptaanNya kecuali orang yang musyrik atau bermusuhan." (HR Ibnu Majah, dihukumi shahih oleh al-Albani)
Tapi tidak berarti ada amalan khusus yang disyariatkan pada malam ini, karena Nabi r tidak pernah mengajarkan atau mencontohkan amalan khusus di malam ini. Demikian juga para sahabat beliau.
Amalan yang disyariatkan secara khusus
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:
عن أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ. قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
Dari Usamah bin Zaid -radhiyallahu 'anhu- beliau berkata: "Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat engkau berpuasa pada satu bulan sebagaimana engkau berpuasa pada bulan Sya'ban?" Rasulullah r menjawab: "Itu adalah bulan yang dilupakan manusia di antara Rajab dan Ramadhan, dan ia adalah bulan diangkatnya amalan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa". (HR. an-Nasai, dihukumi shahih oleh al-Albani)
Aisyah -radhiyallahu 'anha- berkata:
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
“Nabi r biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya kecuali hanya sedikit hari saja (yang beliau tidak berpuasa).” (HR. Muslim)
Di samping agar amalan diangkat dalam keadaan puasa, memperbanyak puasa di bulan ini juga melatih kita menghadapi bulan Ramadhan, sehingga bisa menyambutnya dengan lebih siap dan bersemangat, karena sudah terbiasa menjalani ketaatan selama sebulan sebelumnya.
Beberapa kesalahan seputar bulan Sya'ban
1. 1. Mengkhususkan hari Nishfu Sya'ban atau malamnya dengan ibadah tertentu seperti shalat malam, shalat alfiyyah (bara'ah, dengan membaca surat al-Ikhlas seribu kali), puasa, sedekah, ziyarah kubur, membaca al-Quran, dsb. Adapun jika sebelumnya terbiasa melakukan ibadah tertentu, misalnya puasa pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan (puasa bidh), atau puasa Senin Kamis, atau qiyamullail setiap malam, maka ia tetap disunnahkan menjalankannya pada hari itu.
2. 2. Meyakini bahwa berdoa di malam Nishfu Sya'ban lebih utama daripada doa di hari lain. Demikian juga meyakini ada doa khusus untuk malam itu.
3. 3. Berkumpul merayakan peringatan Nishfu Sya'ban, termasuk di dalamnya makan-makan, berdoa bersama, tirakatan dan menghidupkan malam.
4. 4. Meyakini bahwa malam Nishfu Sya'ban adalah malam lailatul qadr, atau menyamai keutamannya, atau bahkan lebih utama darinya.
5. 5. Meyakini bahwa orang-orang yang akan meninggal dan haji setiap tahun ditentukan di malam Nishfu Sya'ban.
% % %
Wasiat Nabi Tercinta e
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ: صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ, وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى, وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ.
Dari Abu Hurairah t ia berkata: "Kekasihku e mewasiatkan kepadaku tiga hal (yang tidak akan aku tinggalkan sampai aku meninggal) : Puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur."(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
|